Kamis, 04 Februari 2016

Yuk, Berdamai Dengan Masa lalu!


Bismillah...

“Pokoknya nanti menikah pake wali hakim aja! Titik!” sahutnya dengan nada tinggi. Wanita yang sudah berpredikat ibu itu, tidak mengizinkan anaknya dinikahkan oleh walinya. Yaitu ayahnya sendiri.

Anak gadis malang itu hanya diam. Percakapan seperti ini sudah sering mereka perdebatkan. Padahal ayah kandungnya itu masih ada. Namun mereka sudah bercerai sejak anaknya balita. Dan sepertinya sang ibu masih menyimpan luka lama.

Astagfirullah, bingung deh, sama orang yang hobi banget nyimpen luka lama. Padahal luka itu bisa saja kita buang dan jangan diingat-ingat lagi. Caranya berdamailah dengan masa lalu. Anggaplah itu menjadi pelajaran hidupmu. Masa lalu memang tidak bisa kita ubah, tapi setidaknya jika kita bisa berdamai dengannya, kita bisa memperbaiki masa depan.

Nah, kasus yang sudah aku singgung di awal, sangatlah tidak etis. Menurutku, si ibu harusnya bisa berdamai dengan masa lalu. Agar anaknya bisa mencapai kebahagian itu. Hukum islam kan tidak memandang masa lalu atau masa depan. Sudah jelas, jika seorang gadis menikah dan ia masih mempunyai ayah kandung, maka yang wajib menjadi walinya adalah ayahnya sendiri. Kecuali ada alasan yang lain. Lebih jelasnya bisa ditanyakan kepada ahli agama. Ini hanya pendapatku saja, sebatas pemahaman yang masih cetek.

berdamailah dengan masa lalu, yuk berdamai dengan masa lalu, berdamai dengan masa lalu bangunlah masa depanmu, emak-emak blogger, Ella Nurhayati, http://kataella.blogspot.com


Berdamai dengan masa lalu? Susah tahu, gampang banget sih teorinya.

Helow, mungkin saja banyak yang bilang sulit sekali berdamai. Namun apakah kita mau terus-terusan bersahabat dengan luka? Tentu tidak. Mengingat-ingat dan terus meratapi masa lalu hanya akan membuatmu sengsara. Keep calm cuy! Caranya...

Pertama, be positif thinking. Ya, betul sekali. Berbaik sangka akan mendamaikan keadaan. Jangan mikir macem-macem mengapa bisa begitu, mengapa bisa begini, terus-terusan menyalahkan orang lain. Hah! Cape kalau begini saja. Kapan hijrahnya?

Kedua, maafkan. Yuhuuu, belajar memaafkan yuk! Nabi Muhammad sudah mencontohkan kepada kita, betapa indahnya saling memaafkan. Beliau saja yang sudah dijamin masuk surga bisa memaafkan, lah kita yang amalannya masih bolong-bolong kok belagu sih nggak mau maafin kesalahan orang lain?

Okelah, mungkin susah memaafkan, minimal jangan dendam. Nanti kasusnya seperti si ibu tadi. Yang kekeuh nggak mengizinkan mantan suaminya menjadi wali anaknya menikah. Dendam itu penyakit yang mematikan. Penyakit penghalang kebahagiaan.

Ketiga, belajar. Belajarlah dari masa lalu yang menyakitkan. Seimbangkan jiwa kita, berdamai, dan pelajarilah hikmah yang terkandung dalam masa lalu yang tidak nyaman. Agar masa depan diraih gemilang. Karena, jika terus-terusan musuhan, gimana kabarnya masa depan?

Keempat, ikhlas dan bersyukur. Alhamdulillah... semoga kita bisa ikhlas dan senantiasa bersyukur ya. Ikhlaskan semuanya yang sudah terjadi. Syukuri dan nikmati semuanya yang sudah didapatkan.

Well, yuk berdamai dengan masa lalu!

Aku pun sedang belajar berdamai dengannya. Salah satunya, cara mendidik anak. Aku pernah mendapat nasehat dari seorang pakar hypno parenting, ia mengatakan:

“Jika kau mempunyai masa kecil yang keras, hidup dalam pola asuh yang sering ‘ngomel’ atau sering menyalahkan orang lain, maka taubatlah sekarang, berdamailah dengan masa lalu. Jangan biarkan pola asuh itu tumbuh dan berkembang di era zaman sekarang. Lupakan pola asuh yang seperti itu.

Berdamailah. Ambilah pelajaran yang baik saja. Karena, anak butuh pola asuh yang baik. Perkataan dan contoh yang postifif, sugesti-sugesti yang membangun jiwanya berkembang, serta dukungan yang tak pernah henti. Bukan perkataan yang mematahkan semangatnya. Bukan hardikan yang mematikan mimpinya. So, berdamailah dengan masa lalu dan bangunlah masa depanmu” 

14 komentar:

  1. Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir ke sini :)

      Hapus
  2. Subhanallah... Nasihat yang mendinginkan qalbu mba, jazakillah khairan katsira

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir ke sini :)

      Hapus
  3. suka -suka mba :)

    Yuk berdamai dengan masa lalu, sedikit membuat diri ini tersenyum :)
    Aaaaahhh sekian lama berusaha belajar untuk berdamai dengan masa lalu tapi selalu saja ada hal yang mengungkitnya kembali sehingga lelah rasanya kalo masa lalu itu dibahas dengan orang yang salah :v ... Padahal , hati ini sudah biasa saja dengan masa lalu itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Intinya nggak usah BAPER, Mbak.. Insya Allah masa lalu itu bisa kita taklukan. Berdamai...hehe

      Terima kasih sudah mampir ke sini :)

      Hapus
  4. Sudah berniat untuk berdamai dengan masa lalu, tapi bila bertemu dengan sosok-sosok dari masa lalu, kenangan buruk itu datang lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti itu belum berdamai, Mbak. Ayooo ayooo.. mulai ikhlaskan, jadikan pelajaran...

      Terima kasih sudah mampir ke sini :)

      Hapus
  5. Mantep tulisannya, zah. :D apalagi fotonya si Alif. lucu. saya setuju, zah dengan "Berdamai Dengan Masa Lalu". bahkan, rasullulah mengajari umatnya, dendam yang paling parah aja hanya boleh tiga hari, selebihnya tidak boleh. eh? bener gak sih :v ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... nggak boleh 'marahan' lebih dari 3 hari..

      Terima kasih ya, Dafi, sudah mampir ke sini :)

      Hapus
  6. Yang berat mungkin memaafkan...memaafkan kesalahan-kesalahan sendiri :)
    Tapi, ah, yuk berdamai saja dengan masa lalu! :D

    BalasHapus