Rabu, 02 Maret 2016

5 Penyebab Emak-Emak Sering Ngomel

Bismillah...

Lagi-lagi tentang emak-emak yang menjadi tren masa kini. Tapi ada judge yang negatif yang harus dihilangkan. Emak-emak doyan ngomel. Biasanya predikat ini memang sering ditunjukkan kepada emak-emak. Jangan jauh-jauh, ketika aku belum nikah. Kalau sedikit bawel atau sering ngomel, pasti begini:

“Udah deh jangan ngomel-ngomel terus, kayak emak-emak.”
“Bawel banget sih, kayak emak-emak!”
“Ada apa sih marah-marah terus, kayak emak-emak tau!”

Dan sederet dialog lain yang menghubungkan emak-emak. Kasian banget mereka, selalu dijadikan kambing hitam.

Ketika sebelum jadi emak-emak, perasaanku biasa saja. Tapi sekarang, sudah tahu gimana rasanya jadi makhluk keren satu ini. Dan kalau ada yang bilang begitu paling senyum-senyum sendiri. Nggak semua emak-emak kayak gitu sih. Tergantung karakternya. Kalau aku? Hahaha, nilai sendiri!


5 Penyebab Emak-Emak Sering Ngomel, pekerjaan rumah yang membuat bosan, ibu-ibu yang suka marah, tips agar bahagia berkeluarga, Ella Nurhayati, http://kataella.blogspot.com
Sumber: Komik Muslimah

Emak-emak yang suka marah atau ngomel itu ada pemicunya. Tidak serta merta mereka ngomel tanpa sebab. Kalau tidak ada api nggak mungkin ada asap. Apa saja sih penyebabnya?

Pertama, kelelahan dengan pekerjaan rumah yang nggak pernah ada beresnya. Kebiasaan marah, bisa dikarenakan orang itu tidak mampu menahan emosi. Padahal ketika berada dalam kondisi yang stabil, bisa bersikap lemah lembut. Sayangnya, tugas menangani tugas rumah tangga yang begitu berat, sebagai sebuah rutinitas membosankan. Semua itu dapat memperlemah kondisi kejiwaan emak-emak. Tidak aneh mereka menjadi emosional dan cepat marah.

Solusinya adalah, pilih ART atau tidak. Ini menjadi kesepakatan bersama, sesuai dengan kondisi keuangan keluarga. Jika ada anggaran, tidak ada salahnya menggunakan jasanya. Dari pada ngomel terus sama anak yang tidak salah apa-apa. Kasian kejiwaannya, bisa rusak karena emak-emak memarahinya.

Cara lain, kalau tidak bisa menggunakan jasa ART, mommies bisa lebih cerdas lagi mengatur waktu. Harus banyak sharing dengan emak-emak yang sudah berpengalaman. Insya Allah, jika menejemen waktunya bagus, pekerjaan rumah tak akan menjadi masalah. 

Termasuk aku, di rumah kami tidak ada ART. Padahal dengan aktifnya bang Alif saat ini, itu membuat tenagaku lebih terkuras. Tapi karena pengaturan pekerjaan dan bantuan dari suami juga, Alhamdulillah semua terasa ringan. Bahkan masih ada waktu bersantai.

Kalau kata Mbak Andhita (Shalihah Motherhood), "kalau emak-emak lagi lelah, perbanyak Istighfar. Ingat hak dan kewajiban seorang ibu. Insya Allah lelah itu akan diganjar pahala. Lelah pun akan sirna"

Kedua, pergaulan yang terbatas. Dibandingkan jenis pekerjaan lain, profesi ibu rumah tangga memang memiliki resiko kebosanan tingkat provinsi. Bagaimana tidak, seorang ibu harus menjalani profesinya tersebut selama 24 jam dalam sehari. Orang yang ditemuinya pun tak berganti dari hari ke hari. Ahh, kasian sekali.

Cara mengatasinya, tentu dengan banyak bergaul. Bergabung dengan emak-emak satu perjuangan. Mengikuti kegiatan-kegiatan positif yang mengasah keterampilan. Coba deh baca juga tulisanku; kunci kebahagiaan.

Ketiga, kurang dihargai suami dan lingkungan. Kondisi pekerjaan yang mengenaskan dan lingkungan yang terbatas, diperparah dengan ketidakpedulian suami. Bahkan orang-orang terdekat pun lebih dominan tidak mempedulikan kerja berat emak-emak. Bisanya malah memberikan predikat negatif. Masyarakat masa kini menilai pekerjaan rumah tangga sebagai urusan yang sepele dan rendah.

Konflik antara suami istri pun meramaikan suasana rumah. Membuat keadaan menjadi lebih parah. Banyak kaum ibu yang tak memiliki wadah untuk meredakan emosionalnya. Sehingga tak jarang anak dan orang sekitar sebagai sasaran pelampiasan.

Yuk, para suami. Dukunglah para istri. Mereka butuh pengertian dan penghargaan dari anda! Caranya bagaimana? Simpel saja, suamiku selalu membantu pekerjaan rumah. Padahal ia harus bekerja juga. Entah itu mencuci baju saat weekand, mencuci piring bekas makannya sendiri, atau bahkan ikut menjaga bang Alif jika pekerjaan sedang numpuk. 

Tidak itu saja, lelaki hebatku itu sering memberikan sesuatu yang membuat berbunga-bunga, ciyeeee. Karena yang terpenting adalah dukungan cintanya. Kekuatan kata-kata pun menjadi sumber energi sebuah keluarga. Makanya tidak aneh, bang Syaiha setiap hari tak pernah alfa dengan kalimat romantisnya.

Keempat, pengaruh latar belakang keluarga ketika kecil. Ada pula emak-emak yang sering ngomel, karena karakter dasar yang membentuk kebiasaan masa kecilnya. Misalnya, mereka yang dibesarkan dengan disiplin militer yang keras. Akan tumbuh besar dengan kepribadian kaku dan keras. Ada kecendrungan orang tua semacam ini akan berpengaruh terhadap pola asuh kepada anak-anaknya.

Solusinya adalah, berdamailah dengan masa lalu. Lupakan pola asuh yang bisa memicu emak-emak mengomel terus. Berkumpulah dengan orang-orang shalih, Insya Allah akan banyak yang mengingatkan kita tentang pola asuh yang salah.

Kelima, karakter dasar suku bangsanya. Selain itu, karakter kasar bisa terbentuk oleh lingkungan. Terpengaruh oleh adat budaya masyarakatnya yang kasar. Beberapa suku bangsa di Indonesia, memiliki budaya hidup yang lebih keras dibanding suku yang lain. 

Penyebabnya bisa jadi karena tantangan hidup yang dihadapinya. Karakter dasar yang keras, kasar dan emosional tersebut bisa jadi akan merusak pola pendidikan anak. So, sebaiknya merenung, melakukan instropeksi, dan mampu merubah karakter kasar yang merugikan tadi, sebelum menularkannya kepada anak-anak yang harus kita jaga karakternya.

Islam pun sudah memberikan beberapa patokan pergaulan hidup yang beradab. jika semua dipenuhi, maka Insya Allah bisa mengalahkan pengaruh adat budaya yang negatif tadi. 

Beberapa aturan telah diajarkan Islam, seperti larangan mengeraskan suara kepada orang yang lebih tua, larangan bagi wanita untuk melengkingkan suara. Bahkan ada anjuran untuk berwudhu jika marah tiba. Semua sudah tertera di dalam ajaran agama Islam tercinta. 

"…Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan" [Ali Imran: 134] 

Dari Abu Hurairah ra bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhari]

Opini ini terinspirasi karena membaca beberapa ebook keren. Ebook yang paling lengkap tentang parenting dan pengetahuan. Terutama aku sebagai emak-emak pemula yang butuh suntikan ilmu setiap saat. Jika tidak pintar mencari solusi, bisa jadi ngomel-ngomel terus sepanjang hari. Alhamdulillah, ada suami dan orang-orang yang luar biasa dalam hidup ini. Jadi bisa terhindar dari masalah yang satu ini.

12 komentar:

  1. Saya sbg calon emak2 berharap bisa menjadi emak2 yg gak suka ngomel2 :D

    BalasHapus
  2. pencerahan saya dapatkan hahahha, calon emak-emak tapi belum nemu jodoh *ehhh .... hahhaha salam kenal ya Kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal jugaa.. Semoga disegerakan jodohnya

      Hapus
  3. Mantap mbak ella, setuju bgt

    BalasHapus
  4. Berilmu seblm bramall, doakn mbak jodohku dsegerakan hehehe

    BalasHapus
  5. ah nanti kalo jadi emak-emak, nggak mau ngomel-ngomel. Ntar cepet tua. Sekarang sih ngomongnya begitu, yak...nanti kalo udah jadi emak beneran, au dah... bakalan sering ngomel panjang lebar kalik...ahahhhahahah

    BalasHapus
  6. Kadang sih maksudnya ya ndak pengen ngomel. Udah ditahan-tahan eh kadang masih aja keceplosan... Biasanya terus ngaca... Trus kalau udah lihat tampang jadi jeleeek banget pas ngomel biasanya malu sendiri...hihi...

    BalasHapus
  7. Ini toh... Sebab emakku sering ngomel. Eh... Kabur ah... Emakku emak-emak sosmed masa kini soalnya, Mbak. Tahu-tahu tahu aja ini ntar sama komentarku hihi...

    BalasHapus
  8. ahahahah emak emak kalo ngomel emang susah dihentikan :D jangan biarkan emak sampai ngomel hoho

    BalasHapus